PERISTIWA

Kenang Perjuangan Pendiri Sampang, Bupati Slamet Junaidi Nyekar Makam Ratu Ibu

106
×

Kenang Perjuangan Pendiri Sampang, Bupati Slamet Junaidi Nyekar Makam Ratu Ibu

Sebarkan artikel ini
Bupati Sampang H Slamet Junaidi saat menaburkan bunga di Makam Ratu Ibu.

PETAJATIM.co, Sampang – Rangkaian peringatan Hari Jadi (Harjad) Sampang ke 397, Bupati H Slamet Junaidi dan Wakil Bupati (Wabup) H Abdullah Hidayat beserta seluruh unsur Pimpinan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) nyekar ke Makam Ratu Ibu di Madegan, Kelurahan Polagan, Kecamatan Kota, Rabu (23/12/2020).

Dalam kegiatan itu diawali dengan pembacaan Surat Yasin, Tahlil dan doa. Kemudian dilanjutkan dengan menaburkan bunga ke komplek makam Pangeran Cakra Ningrat dan Makam Ratu Ibu. Situs bersejarah tersebut merupakan cikal bakal berdirinya Kabupaten Sampang.

H Slamet Junaidi dalam kesempatan itu menyampaikan, situs Ratu Ibu di Madegan merupakan Bupati pertama Sampang, maka ambil hikmahnya dengan mengenang perjuangan para pendahulu yang merintis hingga berdirinya kabupaten dikenal dengan sebutan Kota Bahari tersebut.

“Jadi rangkaian kegiatan Hari Jadi Sampang dengan nyekar ke Makam Ratu Ibu ini tujuannya ialah mengenang jasa para pendiri kita. Oleh karena itu saya berharap peringatan Harjad tersebut menjadi momentum bagi kita bahwa harus menghormati leluhur yang telah berjuang hingga berdirinya kota tercinta ini,” ujar H Idi sapaan karibnya.

Ia menambahkan untuk memperkenalkan kearifan budaya lokal, dia telah mengintruksikan seluruh jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) berpakaian khas Madura, yakni bagi pria memakai kaos belang warna merah-putih atau merah-hitam dilengkapi dengan baju dan celana hitam longgar, serta mengenakan odeng atau pesa’.

Sedangkan pakaian wanita diwajibkan memakai kebaya Rancongan dan baju Aghungan. Kebaya khas Madura biasanya menggunakan warna hijau, biru ataupun merah yang pas bentuk tubuh. Padanan kebaya yang berwarna kontras itu berupa sarung batik bermotif lasem, storjan ataupun tabiruan.

“Kita juga mewajibkan ASN selama Harjad Sampang dalam berkomunikasi harus berbahasa Madura. Tujuannya adalah agar kearifan budaya lokal tidak luntur tergerus arus modernisasi dan globalisasi,” tutupnya.

Penulis/Editor : Heru