BUDAYA

Rokat Tasek Tradisi Lama Yang Masih Dipertahankan Nelayan Camplong

108
×

Rokat Tasek Tradisi Lama Yang Masih Dipertahankan Nelayan Camplong

Sebarkan artikel ini
Potongan kepala sapi dirias dengan indah sebagai persembahan yang akan dilarungkan ketengah laut oleh nelayan Desa Darma Camplong

petajatim.co, sampang – Tradisi rokat tasek atau petik laut sampai saat ini masih tetap dilestarikan oleh sebagian besar nelayan pesisir pantai, tak terkecuali nelayan Camplong. Meskipun kerap menimbulkan pro kontra di sejumlah kalangan karena di anggap mengandung unsur kesirikan. Namun sebagian pihak menilai bahwa ritual tersebut merupakan bagian dari kearifan lokal.

Zainal Abidin, Sekretaris Aliansi Rakyat Marginal Sampang (Alarm’s) menyatakan, ritual rokat tasek tidak bisa dilepaskan dari budaya masyarakat pesisir, karena laut merupakan bagian dari kehidupan para nelayan dalam mencari ikan. Sehingga budaya yang sudah turun temurun dilakukan tetap dilestarikan, tapi tetap memasukan unsur-unsur Islam dalam ritual tersebut.

“Wali Songo dalam melakukan dakwahnya tidak lantas menghapus akar budaya setempat, namun justru memadukan dengan ajaran-ajaran Islam, salah satunya tradisi rakot tasek yang dilakukan nelayan pesisir pantai Camplong, ” jelas Zainal yang juga warga Desa Darma Camplong

Sesajen berupa kepala sapi dihias dengan indah untuk dilarungkan ketengah laut sebagai bagian dari ritual rokat tasek atau petik laut
, Kamis (19/9/2019).

Menurutnya, selain bagian dari rasa wujud syukur kepada Allah SWT, tradisi tersebut juga bisa menjadi bagian dari kegiatan yang menarik wisatawan jika dikemas dengan baik. Dalam ritual itu warga mempersembahkan sepotong kepala sapi sebagai simbol keberkahan.

“Kepala sapi dan beberapa sesajen yang telah dipersiapkan oleh warga dibawa ke atas perahu kemudian di kirab ramai- ramai untuk dibuang ke tengah laut,” terangnya.

Ia juga menegaskan, membuang sesajen yang dihias sedemikian rupa atau istilahnya melarung itu bukan meminta pertolongan kepada mahluk sebangsa jin penguasa lautan tapi semata-mata hanya wujud syukur atas melimpahnya hasil panen ikan dalam setahun ini.

“Sebelum sesajen dilarung ditengah laut, dilakukan kegiatan pengajian dan tahlil dan doa bersama dengan sejumlah kiai dan para tokoh masyarakat setempat,”

Menariknya, selama perjalanan rombongan perahu yang membawa warga dihibur oleh ludruk Rukun Kemala dengan menampilkan biduan berpakaian kebaya dengan dirias bak pengantin sambil menendangkan kidung-kidung madura dan tak lupa mendapatkan saweran dari warga diatas perahu. (her/red)