TRAVEL

Membantah sudut pandang negatif tentang orang Madura

1349
×

Membantah sudut pandang negatif tentang orang Madura

Sebarkan artikel ini

PETAJATIM.co, Sampang – Penilaian awal dari berbagai cerita tentang Madura sebagian besar adalah kasar, keras, pemarah dan hal negatif lainnya.

Sudut pandang ini dilansir dari berbagai survey dan pemberitaan di beberapa media. Hal ini diperkuat dengan budaya yang terkenal di Madura yaitu “Carok”.

Namun, kita mengenal istilah tak kenal maka tak sayang, pendamping pariwisata Jabupaten Sampang, Deasy Yumnasari yang berasal dari Bandung  menceritakan Madura yang lebih positif dari kacamata pendatang yang memutuskan untuk tinggal di Sampang Madura.

Berdasarkan hal tersebut, muncul fakta lain bahwa masyarakat Madura memiliki rasa persaudaraan yang kuat terhadap orang lain, bahkan yang tidak memiliki ikatan darah.

“Fakta itu muncul Saya bersama suami memutuskan untuk tinggal dan menetap di kabupaten Sampang,”ungkapnya.

Kemudian Ia mengisahkan, di awal kepindahan, rasa khawatir selalu muncul. Apakah kami akan diterima di lingkungan tetangga? Apalagi dengan budaya dan bahasa kami yang berbeda. Tetapi lambat laun rasa khawatir itu tergantikan dengan rasa kagum yang luar biasa.

“Satu setengah tahun kami tinggal di Sampang, tidak pernah kami merasakan kekurangan makanan. Hampir tiap hari tetangga kanan dan kiri datang membawa hasil tangkapan laut. Ketika panen kami pun ikut mendapatkan beras,jagung dan ubi kayu. Hal ini juga yang mematahkan pemikiran kami bahwa Madura subur dengan caranya sendiri ,”jelasnya.

Masih kata Deasy satu tahun terakhir, kami berhasil mendatangkan tamu dari berbagai negara. Dengan bangganya kami ingin sekali memperkenalkan Madura sebagai tempat yang kaya dengan budaya dan keramahan yang tidak kalah dengan daerah lainnya.

“Tamu kami turis asing menikmati berinteraksi dengan warga setempat. Minum kopi bersama di balai-balai depan rumah, belajar memakai sarung bahkan bercanda sampai terbahak-bahak walaupun dengan keterbatasan bahasa,” terangnya.

Lanjutnya ,  akhirnya mengetahui jika Carok dilakukan sebagai langkah terakhir jika harga diri terluka, terlebih lagi apabila menyangkut dengan masalah pagar ayu.

Bahkan jika difikir lebih lanjut, sebetulnya masyarakat desa di Madura tidak ada bedanya dengan sosok “Kabayan” dari tanah Sunda, atau si Doel anak Betawi, yang penuh dengan kepolosan sebagai orang desa dan sikap kejujuran yang berasal dari ilmu agama. Yang membedakan hanya intonasi dan volume suara.

“Saya berupaya untuk mengenalkan masyarakat Madura dari sisi yang baik sudah dimulai sejak lama. Kembali ke tahun 1981, film si Unyil memunculkan sosok Bu Bariah dengan jargon Bo’abo. Disusul dengan kemunculan sosok Kadir yang berpasangan dengan Doyok pada tahun 1987. Dua sosok tersebut sangat melekat di kehidupan anak-anak pada masa itu,”imbuhnya.

Tidak sampai disitu, sebagian masyarakat mungkin belum menyadari bahwa banyak tokoh terkenal di Indonesia berasal dari Madura, salah satunya adalah Halim Perdanakusuma.

Sosok pahlawan nasional yang kini namanya digunakan sebagai  Bandara internasional di Jakarta, merupakan putra asli kabupaten Sampang.

Namun upaya menceritakan kebaikan nampaknya terasa sulit, lantaran masih banyak yang menilai sisi negatif dari sepenggal cerita masa lalu tentang Madura.

Ini dirasa tidak adil jika kita menyukai sate Madura namun mendiskriminasi sosok orang Madura.

“Jadi saran saya, datanglah ke Madura,  khususnya Sampang dan tinggal lebih lama,  dan coba mengenal Madura dari sisi masyarakat dengan rasa kekeluargaannya,”tutupnya.

Penulis             : Tricahyo
Editor                : Heru